Fokus Konseling Islam

Dalam teknik konseling barat fokus mungkin pada orang-orang menyadari kekuatan, mekanisme koping, berurusan dengan konflik masa lalu, dan menemukan solusi. Namun, dalam metode konseling Muslim kami mencoba untuk membantu keluarga secara mendalam holistik (Carter & Rashidi, 2004). Fokusnya adalah pada keseimbangan antara pikiran, dan tubuh (Carter & Rashidi, 2004). Teknik konseling perlu karena fokus pada perdamaian di “roh (Rouh), pikiran (Aghl), jiwa (Nafs), kecerdasan (Aghlaniah, Tafakkor), tubuh (Badan atau Jesm) dan emosi (Atefah)” (Carter & Rashidi, 2004, hal. 153, 2004).

Langkah-Langkah PTK

 

 Bagian 1 ini adalah tulisan Prof. Dr. Suwarsih Madya yang saya post kembali mengingat banyaknya masalah PTK di kalangan guru sekarang. 

Langkah-Langkah Penelitian Tindakan

Ada beberapa langkah yang hendaknya diikuti dalam melakukan penelitian tindakan (lihat misalnya Cohen dan Manion, 1908; Taba dan Noel, 1982; Winter, 1989). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi dan merumuskan masalah; (2) menganalisis masalah; (3) merumuskan hipotesis tindakan; (4) membuat rencana tindakan dan pemantauannya; (5) melaksanakan tindakan dan mengamatinya; (6) mengolah dan menafsirkan data; dan (7) melaporkan.

Secara alami, langkah-langkah itu biasanya tidak terjadi dalam alur yang lurus. Apabila terjadi perubahan masalah pada waktu dilakukan analisis masalah, maka diperlukan identifikasi masalah yang baru. Data diperlukan untuk memfokuskan masalahnya dengan mengidentifikasi faktor penyebab, dalam menentukan hipotesis tindakan, dalam evaluasi dsb.  

 

1. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Seperti telah disinggung di muka, PTK Anda dilakukan untuk mengubah perilaku Anda sendiri, perilaku sejawat dan murid-murid Anda, atau mengubah kerangka kerja, proses pembelajaran, yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku Anda dan sejawat serta murid-murid Anda. Singkatnya, PTK Anda lakukan untuk meningkatkan praktik pembelajaran Anda. Contoh-contoh bidang garapan PTK:

1) metode mengajar, mungkin mengganti metode tradisional dengan metode penemuan;

2) strategi belajar, menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar mengajar;

3) prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik;

4) penanaman atau perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;

5) pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri;

6) pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku; dan

7) administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion, 1980: 181).

 

a. Identifikasi masalah

Seperti dalam jenis penelitian lain, langkah pertama dalam penelitian tindakan adalah mengidentifikasi masalah. Langkah ini merupakan langkah yang menentukan. Masalah yang akan diteliti harus dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri bersama kolaborator meskipun dapat dengan bantuan seorang fasilitator supaya mereka betul-betul terlibat dalam proses penelitiannya. Masalahnya dapat berupa kekurangan yang dirasakan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap, etos kerja, kelancaran komunikasi, kreativitas, dsb. Pada dasarnya, masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan keadaan yang diinginkan.

   Masalahnya hendaknya bersifat tematik seperti telah disebutkan di atas dan dapat diidentifikasi dengan pertolongan tabel dua arah model Aristoteles. Misalnya dalam bidang pendidikan, ada empat sel lajur dan kolom, sehubungan dengan anggapan bahwa ada empat komponen pokok yang ada di dalamnya (Schab, 1969) yaitu: guru, siswa, bidang studi, dan lingkungan.  Semua komponen tersebut berinteraksi dalam proses belajar-mengajar, dan oleh karena itu dalam usaha memahami komponen tertentu peneliti perlu memikirkan bubungan di antara komponen-komponen tersebut.

  Berikut adalah beberapa kriteria dalam penentuan masalah: (a) Masalah harus penting bagi orang yang mengusulkannya dan sekaligus signifikan dilihat dari segi pengembangan lembaga atau program; (b) Masalahnya hendaknya dalam jangkauan penanganan. Jangan sampai memilih masalah yang memerlukan komitmen terlalu besar dari pihak para penelitinya dan waktunya terlalu lama; (c) Pernyataan masalahnya harus mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab dan faktor, sehingga pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini daripada berdasarkan fenomena dangkal.

Berikut ini beberapa contoh masalah yang diidentifikasi sebagai fokus penelitian tindakan: (1) rendahnya kemampuan mengajukan pertanyaan kritis di kalangan mahasiswa; (2) rendahnya ketaatan staf pada perintah atasan; (3) rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris; (4) rendahnya kualitas pengelolaan interaksi guru-siswa-siswa; (5) rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa tersebut; dan (6) rendahnya kemandirian belajar siswa di suatu sekolah menengah atas.

Masalah hendaknya diidentifikasi melalui proses refleksi dan evaluasi, yang dalam model Kemmis dan Taggart disebut reconnaissance, terhadap data pengamatan awal. Masalah rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa tersebut (lihat nomor 5 di atas) diidentifikasi berdasarkan hasil pengamatan awal terhadap proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Sebagai contoh, cuplikan proses pembelajaran bermasalah tersebut disajikan dalam Gambar 3.1  di bawah ini.

 

Ketika guru masuk kelas, pada jam 7 pagi, 5 Agustus 2002, murid-murid kelas IV SD itu sangat ribut. Beberapa mondar-mandir di depan kelas, beberapa berkelakar, dan yang lain bercakap-cakap satu sama lainnya. Sadar gurunya sudah datang mereka terdiam dan mencari meja masing-masing. Mereka lalu duduk manis, tangan di meja, dengan tangan kanan menumpangi tangan kiri. Guru memberi salam, “Good morning, children.” Murid-murid menjawab, “Good morning, Mam.” “Is anybody absent?” Tidak ada yang menjawab. Lalu dia mengulangi pertanyaan dalam bahasa Indonesia, “Ada yang tidak masuk?” Mereka saling berpandangan sebentar. “Tidak ada, Bu,” kata Sutanto, ketua kelasnya. “Bagus. Hari ini kalian akan belajar nama-nama binatang. Kalian sudah siap?” “Sudah, Bu,” jawab murid-murid serentak. “Good. Prepare your pens and notebooks. Copy the words from the board.” Tidak ada yang menanggapi. “Kalian mengerti maksud Ibu?” “Tidak, Bu,” jawab murid-murid serentak. Guru lalu menyampaikan pesan yang sama dalam bahasa Indonesia.

Sementara murid-murid menyiapkan buku dan pena mereka, guru menulis 15 nama binatang dalam bahasa Indonesia di papan tulis, berderet ke bawah. Setelah selesai, dia berkeliling kelas melihat-lihat apakah murid-muridnya menulisnya dengan benar ejaannya. Kadang dia berhenti untuk membantu murid yang mengalami kesulitan.

Setelah murid-murid selesai menuliskan ke-15 nama binatang tersebut, dia meminta anak-anak melihat papan tulis. “Siapa yang tahu bahasa Inggrisnya nama binatang-binatang ini?” Sutanto tunjuk jari. “Bagaimana yang lain?” Tidak ada yang menanggapi. “Baiklah. Apa yang kamu ketahui, Susanto?” “Saya tahu dua saja, Bu. Kucing disebut /ʧat/ (diucapkan seperti kalau membaca bahasa Indonesia) dan sapi /ʧow/.” “Coba kamu tulis dua nama itu di samping nama bahasa Indonesia di papan tulis itu,” pinta gurunya. “Bagus. Tetapi membacanya tidak begitu.” Dia memberikan contoh melafalkan kedua nama tersebut secara benar dan minta murid-murid  untuk menirukan bersama-sama. Kemudian dia melengkapi nama-nama 15 binatang dalam bahasa Inggris. Kemudian  dia mengambil alat penunjuk dan minta murid-murid untuk menirukan guru. Dengan menunjukkan alat itu ke  nama-nama bahasa Inggris binatang di papan tulis satu per satu, dia melafalkan nama itu dan murid-muridnya menirukannya secara klasikal. Kemudian dia minta separuh kelas (sisi kanan) menirukan dan separuhnya lagi (sisi kiri) mendengarkan, dan sebaliknya. Langkah ini diikuti pengecekan secara individual dengan minta 6 orang murid satu per satu menirukan pelafalan nama-nama binatang tersebut. Kegiatan terakhir menirukan dilakukan seluruh kelas. (Lafal guru sempurna).

Lalu guru berkata, ”I like birds. I do not like cats. Do you like cats, Surti?” Surti diam. “Saya suka burung. Saya tidak suka kucing. Apakah kamu suka kucing, Surti?” “Tidak, Bu.” “Kamu, Tanto?” “Ya, Bu.” Lalu dia menuliskan di papan tulis  kalimat 1. I like birds. I do not like cats; 2.Tanto likes cats; 3.Surti does not like cats. Lalu dia menerjemahkan empat kalimat dalam bahasa Indonesia. Murid-murid diminta menurun empat kalimat tersebut dalam bukunya dan dia berkeliling kelas untuk memeriksa apakah mereka benar dalam ejaan. Bebrapa kali dia membantu murid yang salah ejaannya.

Setelah selesai menulis, murid-murid diminta melihat papan tulis dan membuat dua kalimat sejenis dengan contoh nomor 1 dan 2 sesuai dengan binatang yang disukai dan tidak disukai. Lalu sekitar separuh kelas diminta maju satu per satu untuk membaca kalimatnya. Guru membetulkan lafal yang salah.

Karena waktu sudah habis, guru memberi PR dengan meminta setiap anak untuk menanyakan 10 teman, boleh teman sekelas atau kakak/adik kelas binatang apa yang mereka sukai dan tidak sukai di antara 10 binatang yang ada dalam daftar. Terakhir guru memberi salam perpisahan dengan mengucapkan, “Good bye,” dan dijawab oleh sebagian murid.

 

Gambar 3.1 Vignette Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas IV SD

 

Seperti dapat dilihat dalam Gambar 3.1, guru telah melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi kegiatannya terbatas pada pembelajaran tentang lafal, dan terjemahan kata per kata, lalu membuat kalimat terpisah. Tampak bahwa siswa terlibat aktif, tetapi ditinjau dari sudut pandang pembelajaran bahasa komunikatif, proses pembelajaran tersebut belum baik karena belum melibatkan siswa dalam kegiatan menggunakan ungkapan-ungkapan yang dipelajari untuk berkomunikasi, misalnya lewat permainan dan bermain peran.

Data awal tersedia dalam beberapa vignette yang dicermati bersama oleh peneliti dan kolaboratornya dalam suasana terbuka di mana setiap peserta penelitian mendapatkan hak berbicara sehingga terjadi dialog profesional yang enak. Tentu saja masalah yang ditemukan tidak mungkin hanya satu; biasanya ada sederet masalah. Maka, peneliti bersama kolaboratornya perlu membatasi  masalah, atau menentukan fokus penelitian. Dalam kasus pengajaran bahasa Inggris di atas, kualitas pembelajaran di kelas dianggap sebagai masalah yang perlu segera dipecahkan agar hasil pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai, yaitu keterampilan  menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Setelah ditentukan, masalah perlu dirumuskan.

 Bersambung

Idul Fitri dan Perbaikan Karakter Bangsa

Membaca Indonesia ini ada perasaan miris yang meliputi hati. Kita kehilangan teladan di hampir segala sendi kehidupan. Perjalanan hari-hari terakhir bangsa disuguhkan dengan beragam sandiwara yang memilukan. Para pejabat Idul Fitri Dan Perbaikan Karakter Bangsa
partai yang korupsi berjamaah, bermain perempuan, tawuran antar mahasiswa, perdagangan manusia, kekerasan ormas atas nama agama. Semuanya membuat kita bertanya, seburuk itukah karakter bangsa Indonesia sekarang. Sebuah bangsa yang dipadati oleh pemeluk lima agama besar di dunia. Continue reading →

Di Akhir Bulan ramadhan

Bulan  sudah menua

Cahaya nya kian redup

Pendarannya tak sekuat dulu lagi

Kini menghiasi kampungku yang jauh dari hiruk pikuk

 

Manusia kini siap-siap berlebaran

Membeli baju, menyiapkan timphan

Untuk diri dan mungkin para tuan-tuan

Yang akan segera dihidangkan saat lebaran tiba

 

Di mesjid orang mulai hilang

Sedikit saja yang bisa bertahan

Mungkin iman, mungkin takut dan harap

Dan kuyakinkan bahwa mereka orang-orang terikhlaskan

 

Di mesjid-mesjid kami berteriak pelan

Mengharap belas kasihan Tuhan

Di akhir bulan yang penuh kerahmatan

Mengharap Tuhan beri sebuah tambalan

Keampunan untuk hari kemudian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dunia Plastik

Pagi membelah dunia menjadi baru

Sebuah lemparan pamper keluar rumah

Anak-anak menangis meminta dibeliin permen karet

Menyertai ibu-ibu yang belanja sayur dalam kresek yang baru semuanya

Bapak keluar dengan jas baru dikantongnya

Menyimpan persiapan seminar yang dipenuhi hiasa bunga buatan

Di jalanan membelikan sebuah makanan pizza pesanan

Di antarkan ke kantor makan siang

Ku ratapi dengan segala bahasa

Tentang apa yang kulihat

Namun gundukan pamper kini menjadi nyata

Gundungan bunga juga kian membara

Dan kresek-kresek ibunda setiap hari terus membalut lingkup kita

Sampai akhirnya nafas kita menyatu

Dengan plastik yang tak bisa diurai

Entah kapan kita berhenti dan bilang

Tidak dengan gundukan ini semua

Atau kita kan menjadi dia juga suatu hari entah

Kapan ?

Banda Aceh, 20 juni 2013

Rindu Kasih Mu

Hamba tahu Engkau sangat pemurah

Namun itu semua kadang terlupakan

Oleh kegalauan hidup duniawi

Melupakan apa yang telah Engkau beri

Dan selalu berharap yang tiada

Hamba tahu Engkau selalu melihat kami

Tapi kami melupakan bahwa engkau Maha Melihat

Dari yang tampak dan kami sembunyikan

Itulah kadang kebodohan yang tak kami akui

Hamba tahu Engkau selalu ada

Dan kami akan fana

Kebebalan hamba lah yang membuat kian bermasalah

Mengagungkan kefanaan dan kadang melupakan ke Ada- an

Engkau beri tambahan harapan di setiap tahunnya melalui ramadhan

Namun kadang kami tetap gagal

Maka tiada kata yang lebih agung

Astafirullah atas segala dosa atas kesilapan dan kesengajaan kami

Walau kami harus menutup mata

Sambil berharap rahmat-Mu akan lebih besar dari amarah-Mu

%d bloggers like this: