SHALAT SEBAGAI PENGOBATAN PENYAKIT FISIK DAN PSIKIS

Ditulis oleh Dr. Jamal Muhammad Az-Zaki

Shalat yang khusyu’ dapat memberikan ketenangan mental dan menghilangkan ketegangan dengan beberapa alasan. Diantaranya adalah munculnya perasaan sese23orang bahwa seluruh permasalahan yang ia hadapi menjadi pudar ketika ia berada di hadapan Kekuatan yang Maha Agung. Yaitu Allah yang maha Pencipta dan maha Mengatur seisi alam semesta. Maka ketika seseorang telah selesai dari shalatnya, ia akan merasa bahwa segala permasalahnnya sudah menemukan jalan keluar dan akan diselesaikan oleh Allah yang maha Penyayang.

Shalat juga mampu mengatasi ketegangan melalui proses pergantian gerak yang terus-menerus. Seperti yang sudah diketahui, bahwa perubahan gerakan dapat memberikan perasaan rileks pada psikologis tubuh. Rasulullah saw. sendiri telah menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan shalat ketika dirinya sedang dikuasi oleh perasaan emosi. Sebagaimana pula telah dibuktikan secara ilmiah bahwa shalat memiliki efek langsung terhadap sistim saraf. Karena gerakan-gerakan shalat mampu untuk menenangkan gejolak dalam jiwa dan mempertahankan kestabilan mental. Shalat juga merupakan cara pengobatan yang jitu terhadap keluhan insomnia yang disebabkan oleh gangguan saraf. Sebab itulah Rasulullah apabila pikirannya terganggu dengan suatu permasalahan, beliau pun bersegera untuk shalat. Beliau juga pernah berkata kepada Bilal, “Wahai bilal, hiburlah kami dengan shalat.”

Sebuah penelitian terbaru yang diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Radiasi Nasional Mesir menemukan suatu teori bahwa gerakan sujud kepada Allah dapat membebaskan manusia dari rasa sakit pada fisik dan ketegangan mental serta penyakit mental dan fisik yang lainnya. Para pakar biologi dan radiasi makanan di lembaga tersebut yang diketuai oleh Dr. Muhammad Dhiya Hamid menemukan bahwa gerakan sujud dapat mengurangi rasa lelah, tegang, sakit kepala, dan emosi. Sebagaimana sujud juga sangat berperan besar dalam meminimalisir ancaman tumor.

Para peneliti ini menjelaskan bahwa manusia sangat terancam dengan adanya bahaya radiasi dengan menghabiskan hidupnya dalam lingkup elektromagnetis yang memberikan efek negatif bagi sel-sel tubuhnya, sehingga sel-sel tersebut pun menjadi lemah. Dengan adanya gerakan sujud, maka manusia sangat terbantu dalam mengatasi adanya pengaruh berlebihan dari elektromagnetis tersebut yang mengakibatkan munculnya penyakit seperti sakit kepala, kram otot, leher tegang dan kelelahan, ditambah lagi dengan sering lupa dan autis.

Para peneliti ini juga menyinggung bahwa meningkatnya unsur elektromagnetis tanpa ada usaha untuk mengatasinya, akan semakin memperburuk keadaan dengan munculnya tumor dan terkadang juga akan membuat embrio menjadi cacat. Maka dengan adanya gerakan sujud, gelombang elektromagnetis yang ada di dalam tubuh bisa dikeluarkan tanpa harus mengkonsumsi obat-obatan yang efek sampingnya juga berbahaya.

Para pakar dari Mesir juga menegaskan hal tersebut dengan mengatakan, bahwa proses pembebasan tubuh dari elektromagnetis dilakukan melalui gerakan sujud. Dimana ketika dahi manusia yang mengandung kutub positif dari elektromagnetis tersebut ditempelkan ke tanah yang terdapat di dalamnya kutub negatif. Sehingga tubuh pun bisa terbebas dari muatan elektromagnetis. Apalagi ketika sujud, bagian tubuh yang menempel ke tanah adalah dahi, hidung, dua telapak tangan, dua lutut dan dua kaki, sehingga proses pengosongan muatan pun menjadi semakin mudah.

Temuan teori lainnya yang lebih dahsyat lagi adalah, bahwa proses pengosongan muatan elektro dari dalam tubuh melalui sujud tersebut, juga harus dilakukan dengan menghadap ke arah Mekkah al-Mukarramah yang merupakan kiblat shalat bagi kaum muslimin tempat dimana beradanya Ka’bah al-Musyarrafah.

Teori para ilmuwan ini bertolak dari alasan bahwa Mekkah adalah pusat bumi dan terletak pada pertengahan bola bumi, bukan kota Greenwich seperti yang dikatakan sebagian orang. Dengan posisi menghadap ke arah pusat bumi, adalah posisi yang paling baik untuk melakukan pengosongan muatan elektro, sehingga manusia pun bisa terbebas dari beban pikirannya dan merasakan ketenangan jiwa yaitu perasaan yang memang didapat oleh seorang muslim setelah melakukan shalat.

Dr. Thomas Heslop mengatakan, “Salah satu bagian kehidupan sehari-hari yang paling penting aku ketahui selama bergelut di dunia penelitian adalah shalat. Aku mengatakan pendapat ini sebagai seorang dokter. Bagiku shalat adalah cara terpenting yang dikenal oleh manusia untuk menebarkan perasaan tenang di dalam jiwanya dan kenyamanan sarafnya.”

Sedangkan Dr. Alexis Carrel periah hadiah Nobel Kedokteran mengatakan pendapatnya tentang shalat, “Shalat adalah stimulan yang luar biasa bagi seluruh anggota tubuh. Bahkan ia merupakan stimulan yang paling besar aku ketahui hingga saat ini. Aku sudah sering kali bertemu dengan orang-orang sakit yang obat-obatan tidak mampu mengatasi penyakit mereka. Dan manakala mereka mengambil jalan pengobatan dengan shalat, penyakit mereka pun menjadi sembuh. Shalat layaknya seperti logam radium yang menghasilkan radiasi dan juga sebagai pembangkit aktivitas. Aku sendiri sudah menyaksikan bagaimana pengaruh shalat dalam mengobati berbagai macam bentuk penyakit seperti, Tuberkulosis Peritoneal, radang tulang, luka bernanah, kanker, dan lain sebagainya.”

Membaca ayat-ayat Al-Qur’an sesuai aturan tajwidnya di dalam shalat dengan tarikan dan hembusan nafas yang teratur, juga sangat bermanfaat dalam mengurangi ketegangan. Sebagaimana juga ge­rakan otot mulut yang mengeluarkan bacaan dapat mengurangi rasa lelah dan menstimulasi kerja dan vitalitas otak seperti yang sudah dibuktikan dalam beberapa penelitian ilmiah.

Rajin mengerjakan shalat dan pelaksanaannya yang benar, merupakan cerminan dari iman yang terpatri di dalam jiwa. Shalat adalah tangga orang yang beriman untuk menuju Tuhannya. Saat mengerjakannya, seluruh pikiran tentang dunia dan pengaruhnya terhadap jiwa pun ditinggalkan. Saat seorang hamba yang beriman menghadap Tuhannya, jiwanya pun menjadi tenang, dengan hati yang penuh keikhlasan dan kerendahan diri, serta ruh yang khusyu’.

Keadaan luar biasa ini paling sedikit terulang sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Maka hilanglah seluruh penyebab ketegangan, kekhawatiran, dan stress. Dan jadilah shalat sebagai pembawa ketenangan jiwa yang berpengaruh pada seluruh anggota tubuh. Manakala konsentrasi dan keasyikan dalam shalat meningkat, pengaruhnya akan sampai pada titik-titik otak bagian atas hingga ke Hipotalamus yang menimbulkan rasa tenang dalam jiwa diiringi dengan menurunnya aktivitas saraf simpatetik, kadar Adrenalin dalam darah, begitu pula dengan hormon-hormon penyebab stress dan tegang seperti hormon Kortizol.

Ketika seseorang dalam keadaan cemas, maka kadar Kortizol di dalam darah akan meningkat tiga kali lipat. Begitu juga ketika sedang dalam kondisi sedang kesal, dan pada beberapa penyakit mental yang lainnya.

Dengan mental yang dalam keadaan rileks, tenang dan tentram, kadar Kortizol akan selalu berada pada levelnya yang normal. Kondisi semacam ini akan melindungi manusia dari efek-efek negatif yang dihasilkan oleh hormon tersebut. Misalnya seperti naiknya tekanan darah, meningkatnya kadar gula dalam darah, kerapuhan tulang, dan lain sebagainya. Apalagi jika kadar Kortizol tersebut naik secara berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang lama.

Selain itu, pemanfaatan waktu shalat yang dimulai dari persiapannya, kemudian setelah selesai shalat membaca zikir-zikir, akan menjauhkan pikiran manusia dari aktivitas keduniaan sehari-hari, begitu juga dari kelelahan akibat bekerja terus-menerus. Maka manakala kondisi yang demikian terus terulang-ulang melalui shalat, akan hilanglah waktu-waktu tegang dan kelelahan, dan ketenangan jiwa pun akan selalu datang.

Dalam sebuah penelitian khusus ditangkap suatu perubahan psikologis yang muncul dari pengaruh perasaan rileks yang terus berulang-ulang beberapa kali dalam sehari. Dalam hal ini digambarkan sebagai meningkatnya produksi Insulin dan Testos­terne (hormon laki-laki) dan berkurangnya kadar  Cathecolamine (Adrenalin dan Non Adrenalin), hormon Kortizol, gula dan lemak, serta berkurangnya kecepatan detak jantung dan tekanan darah. Semua kondisi yang menyenangkan ini kembali pada rasa tenang dan pengaruhnya pada sistim saraf dan kelenjar.

Jadi, shalat beserta manfaatnya yang memberikan ketenangan jiwa secara berulang-ulang, terkadang juga akan berpengaruh pada perubahan psikologis yang semuanya adalah perubahan bagi ke­sehatan.

http://www.jasadesainwebsite.net/shalat-sebagai-pengobatan-penyakit-fisik-dan-psikis/menu-id-71.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: