Idul Fitri dan Perbaikan Karakter Bangsa

Membaca Indonesia ini ada perasaan miris yang meliputi hati. Kita kehilangan teladan di hampir segala sendi kehidupan. Perjalanan hari-hari terakhir bangsa disuguhkan dengan beragam sandiwara yang memilukan. Para pejabat Idul Fitri Dan Perbaikan Karakter Bangsa
partai yang korupsi berjamaah, bermain perempuan, tawuran antar mahasiswa, perdagangan manusia, kekerasan ormas atas nama agama. Semuanya membuat kita bertanya, seburuk itukah karakter bangsa Indonesia sekarang. Sebuah bangsa yang dipadati oleh pemeluk lima agama besar di dunia.
Maka mendekati lebaran seperti ini kita melihat juga bagaimana ketidakmampuan pemerintah mengelola proses mudik dengan sarana dan prasarana yang baik. Namun sebagai bangsa yang beragama kita selalau dianjurkan untuk optimis, berbaik sangka dengan apa yang terjadi dan mencari jalan keluar atas segala yang menimpa. Karena Tuhan tidak akan meninggalkan hamba-hambanya yang berbuat kebajikan, walau di tengah badai dahsyat kemaksiatan.
Menjelang Idul Fitri ini penulis teringat beberapa pesan Rasulullah, semoga pesan ini bisa menjadi suatu renungan yang akan memperbaiki bangsa ini ke depan. Saya teringat akan sebuah definisi yang sangat jelas, penuh kekuatan yang mampu memagari umat Islam dari berlaku anakhis kepada saudaranya. Suatu hari beliau bertanya kepada para sahabatnya: Tahukah kamu siapakah orang beriman? “Orang beriman ialah orang yang sesamanya merasa terlindungi (karena kehadirannya) dalam kehormatannya, jiwa nya dan hartanya,” demikian kata Nabi. Di lain kesempatan, Nabi saw bersabda, “Orang beriman itu ditandai dengan empat hal: muka yang ramah, lidah yang lembut, hati yang penuh kasih, dan tangan yang suka memberi.”
Ada beberapa pesan yang sangat kuat dari hadist di atas kepada semua orang beriman yang semestinya bisa dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa hari ini. Pertama, bagaimana umat Islam hari ini menggerakkan potensi yang ada pada diri untuk memberi keselamatan kepada semua orang yang ada di negeri ini baik pada harta dan jiwa mereka.
Umat Islam harus betul-betul menjadi pelindung bagi saudara-saudaranya sesama muslim dan menjadi saudara yang baik bagi yang lainnya. Karena bagaimanapun kita harus menjadi manyoritas yang tidak mendhalimi, apalagi mengangkangi hak-hak orang lain. Persoalan terorisme yang dimunculkan akibat perilaku sebagian orang yang mengaku lebih Islam dari yang lainnya semestinya tidak perlu muncul di negeri ini, andai dengan baik kita memahami bahwa Islam itu datang membawa kedamaian, bukan pemaksaan kehendak.
Namun di sisi lain kita juga sebagai manyoritas tidak boleh lupa mengingatkan pemerintah dengan elegan. Bahwa sebagai sebuah negara yang dilandasi oleh berbagai kepentingan orang-orang yang beragama, pemerintah harus memberi perhatian yang kuat pada adanya perbedaan yang harus dilindungi. Jangan semena-mena terhadap suatu kelompok yang dianggap mengkritik pemerintah.
Kedamaian bangsa Indonesia hari ini lahir batin sangat tergantung pada pergerakan umat Islam, tanpa mengesampingkan agama-agama lain. Dan pemerintah harus mengakomodasikan ini dengan baik. Sehingga kebaikan yang akan dilakukan oleh umat Islam tidak menjadi bumerang bagi pemerintahan. Tanpa harus menjadi negara Islam, kita melihat bagaimana Shalat lima hari sekali, Puasa, Zakat, dan Haji secara doktrinal dan dari sisi budaya mempengaruhi gerak bangsa ini.
Maka hari Idul Fitri sebagai miniatur bagaimana umat Islam harus memberi energi yang mampu memperbaiki bangsa ini ke depan. Mulai dari proses mudik yang telah menjadi suatu budaya yang menyita energi bangsa sangat besar. Maka mampukan keteladanan ditampilkan oleh umat Islam yang mudik ke kampung halaman, sebagai bagian perjalanan spiritual menuju fitri di kampung halaman masing-masing.
Andai saja niat mudik ikhlas untuk sebuah pengabdian kepada orang tua, saudara di sana, ditambah dengan agenda perbaikan. Dalam artian setiap yang mudik membawa nilai-nilai kebaikan. Maka sungguh bangsa ini akan mengalami kemajuan spiritual yang luar biasa. Setiap tahun paling tidak dua kali lebaran yang di sana kita melakukannya dengan terus menerus. Betapa sebuah potensi yang luar biasa yang harus dimanfaatkan oleh orang-orang yang melaksanakannya di bulan fitri ini.
Kedua, Pada hadist yang kedua kita mendapati hal yang baru dari pesan Nabi, yang dapat kita katakan sebagai tambahan menjaga keselamatan orang lain yaitu suka memberi. Sebuah bangsa akan besar dan akan menjadi lebih maju bila semakin banyak orang yang berjiwa sosial untuk membantu negeranya. Semakin tumbuh dedikasi untuk memperbaiki dan melakukan yang terbaik untuk bangsanya sendiri.
Hal ini sekarangan sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Di tengah banyaknya kekhawatiran adanya upaya untuk melakukan pemisahan diri oleh beberapa provinsi yang tidak puas dengan kepemimpinan Indonesia yang di anggap “Jawa Sentris”. Pada sisi lain kita melihat bahwa koruptor yang merajalela juga sebagai bentuk pengingkaran rasa cinta kepada bangsa yang telah memberi kehidupan.
Maka beranjak dari pesan Nabi tersebut Idul Fitri bisa menjadi moment bagi bangsa ini untuk memberi pengorbanan yang lebih banyak kepada bangsa ini. Bukankah ajaran Fitrah yang diwajibkan sehabis kita berpuasa memberi suatu ajaran yang sangat jelas kepada kita bahwa sudah seharusnya memberi kepada yang lain. Membagi bagian dari harta yang dicintai untuk orang-orang yang membutuhkan.
Andai saja momen yang datang setiap tahunnya ini bisa dikelola dengan baik, maka sesungguhnya potensi menggerakkan ekonomi umat akanlah sangat besar. Mulai dari semangat fitri untuk berbagi kepada sesama yang digerakkan ke arah yang lebih luas. Semangat untuk membangun desa tempat kembali mereka setiap tahunnya, maka kita akan melihat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih makmur dan memiliki karakter yang lebih baik.
Ketiga, dengan Idul Fitri kita kembali kepada kesucian. Maka dengan energi yang bersih dari semua umat Islam mulailah merenungkan bahwa tugas berat mempermbaiki karakter bangsa ada pada setiap orang yan telah tersucikan karena puasa selama sebulan dan “pesta pemaafan” di hari raya. Dengan pemaafan kita tidak menengok lagi ke belakang, tetapi visi ke arah perbaikan harus lebih nyata. Menutup luka lama dan membuka halaman baru untuk memperbaiki bangsa yang kian rapu ini. Mudah-mudahan kita semua dapat memaknai semangat idul fitri ini, ibarat “mudiknya” Nabi dari Madinah ke Mekah dengan membukanya menjadi negeri yang damai. Insyaallah.
Penulis Alumni PPS IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan pondok pesantren mahasiswa Al-Islahiyah Lambhuk Banda Aceh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: