Category Archives: Uncategorized

Langkah-Langkah PTK

 

 Bagian 1 ini adalah tulisan Prof. Dr. Suwarsih Madya yang saya post kembali mengingat banyaknya masalah PTK di kalangan guru sekarang. 

Langkah-Langkah Penelitian Tindakan

Ada beberapa langkah yang hendaknya diikuti dalam melakukan penelitian tindakan (lihat misalnya Cohen dan Manion, 1908; Taba dan Noel, 1982; Winter, 1989). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi dan merumuskan masalah; (2) menganalisis masalah; (3) merumuskan hipotesis tindakan; (4) membuat rencana tindakan dan pemantauannya; (5) melaksanakan tindakan dan mengamatinya; (6) mengolah dan menafsirkan data; dan (7) melaporkan.

Secara alami, langkah-langkah itu biasanya tidak terjadi dalam alur yang lurus. Apabila terjadi perubahan masalah pada waktu dilakukan analisis masalah, maka diperlukan identifikasi masalah yang baru. Data diperlukan untuk memfokuskan masalahnya dengan mengidentifikasi faktor penyebab, dalam menentukan hipotesis tindakan, dalam evaluasi dsb.  

 

1. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Seperti telah disinggung di muka, PTK Anda dilakukan untuk mengubah perilaku Anda sendiri, perilaku sejawat dan murid-murid Anda, atau mengubah kerangka kerja, proses pembelajaran, yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku Anda dan sejawat serta murid-murid Anda. Singkatnya, PTK Anda lakukan untuk meningkatkan praktik pembelajaran Anda. Contoh-contoh bidang garapan PTK:

1) metode mengajar, mungkin mengganti metode tradisional dengan metode penemuan;

2) strategi belajar, menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar mengajar;

3) prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik;

4) penanaman atau perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;

5) pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri;

6) pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku; dan

7) administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion, 1980: 181).

 

a. Identifikasi masalah

Seperti dalam jenis penelitian lain, langkah pertama dalam penelitian tindakan adalah mengidentifikasi masalah. Langkah ini merupakan langkah yang menentukan. Masalah yang akan diteliti harus dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri bersama kolaborator meskipun dapat dengan bantuan seorang fasilitator supaya mereka betul-betul terlibat dalam proses penelitiannya. Masalahnya dapat berupa kekurangan yang dirasakan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap, etos kerja, kelancaran komunikasi, kreativitas, dsb. Pada dasarnya, masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan keadaan yang diinginkan.

   Masalahnya hendaknya bersifat tematik seperti telah disebutkan di atas dan dapat diidentifikasi dengan pertolongan tabel dua arah model Aristoteles. Misalnya dalam bidang pendidikan, ada empat sel lajur dan kolom, sehubungan dengan anggapan bahwa ada empat komponen pokok yang ada di dalamnya (Schab, 1969) yaitu: guru, siswa, bidang studi, dan lingkungan.  Semua komponen tersebut berinteraksi dalam proses belajar-mengajar, dan oleh karena itu dalam usaha memahami komponen tertentu peneliti perlu memikirkan bubungan di antara komponen-komponen tersebut.

  Berikut adalah beberapa kriteria dalam penentuan masalah: (a) Masalah harus penting bagi orang yang mengusulkannya dan sekaligus signifikan dilihat dari segi pengembangan lembaga atau program; (b) Masalahnya hendaknya dalam jangkauan penanganan. Jangan sampai memilih masalah yang memerlukan komitmen terlalu besar dari pihak para penelitinya dan waktunya terlalu lama; (c) Pernyataan masalahnya harus mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab dan faktor, sehingga pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini daripada berdasarkan fenomena dangkal.

Berikut ini beberapa contoh masalah yang diidentifikasi sebagai fokus penelitian tindakan: (1) rendahnya kemampuan mengajukan pertanyaan kritis di kalangan mahasiswa; (2) rendahnya ketaatan staf pada perintah atasan; (3) rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris; (4) rendahnya kualitas pengelolaan interaksi guru-siswa-siswa; (5) rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa tersebut; dan (6) rendahnya kemandirian belajar siswa di suatu sekolah menengah atas.

Masalah hendaknya diidentifikasi melalui proses refleksi dan evaluasi, yang dalam model Kemmis dan Taggart disebut reconnaissance, terhadap data pengamatan awal. Masalah rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa tersebut (lihat nomor 5 di atas) diidentifikasi berdasarkan hasil pengamatan awal terhadap proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Sebagai contoh, cuplikan proses pembelajaran bermasalah tersebut disajikan dalam Gambar 3.1  di bawah ini.

 

Ketika guru masuk kelas, pada jam 7 pagi, 5 Agustus 2002, murid-murid kelas IV SD itu sangat ribut. Beberapa mondar-mandir di depan kelas, beberapa berkelakar, dan yang lain bercakap-cakap satu sama lainnya. Sadar gurunya sudah datang mereka terdiam dan mencari meja masing-masing. Mereka lalu duduk manis, tangan di meja, dengan tangan kanan menumpangi tangan kiri. Guru memberi salam, “Good morning, children.” Murid-murid menjawab, “Good morning, Mam.” “Is anybody absent?” Tidak ada yang menjawab. Lalu dia mengulangi pertanyaan dalam bahasa Indonesia, “Ada yang tidak masuk?” Mereka saling berpandangan sebentar. “Tidak ada, Bu,” kata Sutanto, ketua kelasnya. “Bagus. Hari ini kalian akan belajar nama-nama binatang. Kalian sudah siap?” “Sudah, Bu,” jawab murid-murid serentak. “Good. Prepare your pens and notebooks. Copy the words from the board.” Tidak ada yang menanggapi. “Kalian mengerti maksud Ibu?” “Tidak, Bu,” jawab murid-murid serentak. Guru lalu menyampaikan pesan yang sama dalam bahasa Indonesia.

Sementara murid-murid menyiapkan buku dan pena mereka, guru menulis 15 nama binatang dalam bahasa Indonesia di papan tulis, berderet ke bawah. Setelah selesai, dia berkeliling kelas melihat-lihat apakah murid-muridnya menulisnya dengan benar ejaannya. Kadang dia berhenti untuk membantu murid yang mengalami kesulitan.

Setelah murid-murid selesai menuliskan ke-15 nama binatang tersebut, dia meminta anak-anak melihat papan tulis. “Siapa yang tahu bahasa Inggrisnya nama binatang-binatang ini?” Sutanto tunjuk jari. “Bagaimana yang lain?” Tidak ada yang menanggapi. “Baiklah. Apa yang kamu ketahui, Susanto?” “Saya tahu dua saja, Bu. Kucing disebut /ʧat/ (diucapkan seperti kalau membaca bahasa Indonesia) dan sapi /ʧow/.” “Coba kamu tulis dua nama itu di samping nama bahasa Indonesia di papan tulis itu,” pinta gurunya. “Bagus. Tetapi membacanya tidak begitu.” Dia memberikan contoh melafalkan kedua nama tersebut secara benar dan minta murid-murid  untuk menirukan bersama-sama. Kemudian dia melengkapi nama-nama 15 binatang dalam bahasa Inggris. Kemudian  dia mengambil alat penunjuk dan minta murid-murid untuk menirukan guru. Dengan menunjukkan alat itu ke  nama-nama bahasa Inggris binatang di papan tulis satu per satu, dia melafalkan nama itu dan murid-muridnya menirukannya secara klasikal. Kemudian dia minta separuh kelas (sisi kanan) menirukan dan separuhnya lagi (sisi kiri) mendengarkan, dan sebaliknya. Langkah ini diikuti pengecekan secara individual dengan minta 6 orang murid satu per satu menirukan pelafalan nama-nama binatang tersebut. Kegiatan terakhir menirukan dilakukan seluruh kelas. (Lafal guru sempurna).

Lalu guru berkata, ”I like birds. I do not like cats. Do you like cats, Surti?” Surti diam. “Saya suka burung. Saya tidak suka kucing. Apakah kamu suka kucing, Surti?” “Tidak, Bu.” “Kamu, Tanto?” “Ya, Bu.” Lalu dia menuliskan di papan tulis  kalimat 1. I like birds. I do not like cats; 2.Tanto likes cats; 3.Surti does not like cats. Lalu dia menerjemahkan empat kalimat dalam bahasa Indonesia. Murid-murid diminta menurun empat kalimat tersebut dalam bukunya dan dia berkeliling kelas untuk memeriksa apakah mereka benar dalam ejaan. Bebrapa kali dia membantu murid yang salah ejaannya.

Setelah selesai menulis, murid-murid diminta melihat papan tulis dan membuat dua kalimat sejenis dengan contoh nomor 1 dan 2 sesuai dengan binatang yang disukai dan tidak disukai. Lalu sekitar separuh kelas diminta maju satu per satu untuk membaca kalimatnya. Guru membetulkan lafal yang salah.

Karena waktu sudah habis, guru memberi PR dengan meminta setiap anak untuk menanyakan 10 teman, boleh teman sekelas atau kakak/adik kelas binatang apa yang mereka sukai dan tidak sukai di antara 10 binatang yang ada dalam daftar. Terakhir guru memberi salam perpisahan dengan mengucapkan, “Good bye,” dan dijawab oleh sebagian murid.

 

Gambar 3.1 Vignette Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas IV SD

 

Seperti dapat dilihat dalam Gambar 3.1, guru telah melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi kegiatannya terbatas pada pembelajaran tentang lafal, dan terjemahan kata per kata, lalu membuat kalimat terpisah. Tampak bahwa siswa terlibat aktif, tetapi ditinjau dari sudut pandang pembelajaran bahasa komunikatif, proses pembelajaran tersebut belum baik karena belum melibatkan siswa dalam kegiatan menggunakan ungkapan-ungkapan yang dipelajari untuk berkomunikasi, misalnya lewat permainan dan bermain peran.

Data awal tersedia dalam beberapa vignette yang dicermati bersama oleh peneliti dan kolaboratornya dalam suasana terbuka di mana setiap peserta penelitian mendapatkan hak berbicara sehingga terjadi dialog profesional yang enak. Tentu saja masalah yang ditemukan tidak mungkin hanya satu; biasanya ada sederet masalah. Maka, peneliti bersama kolaboratornya perlu membatasi  masalah, atau menentukan fokus penelitian. Dalam kasus pengajaran bahasa Inggris di atas, kualitas pembelajaran di kelas dianggap sebagai masalah yang perlu segera dipecahkan agar hasil pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai, yaitu keterampilan  menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Setelah ditentukan, masalah perlu dirumuskan.

 Bersambung

Advertisements

Idul Fitri dan Perbaikan Karakter Bangsa

Membaca Indonesia ini ada perasaan miris yang meliputi hati. Kita kehilangan teladan di hampir segala sendi kehidupan. Perjalanan hari-hari terakhir bangsa disuguhkan dengan beragam sandiwara yang memilukan. Para pejabat Idul Fitri Dan Perbaikan Karakter Bangsa
partai yang korupsi berjamaah, bermain perempuan, tawuran antar mahasiswa, perdagangan manusia, kekerasan ormas atas nama agama. Semuanya membuat kita bertanya, seburuk itukah karakter bangsa Indonesia sekarang. Sebuah bangsa yang dipadati oleh pemeluk lima agama besar di dunia. Continue reading →

Rindu Kami

Rindu kami bukan pada bulan yang datang setahun sekali

Rindu kami pada kesempatan yang masih diberi menatapnya

Duduk bersimpuh dan menghabiskan waktu bersama-Nya

Bukan ingin masuk surga atau merasa paling takwa

Rindu kami adalah pada ridha yang akan diberi

 

Rindu kami bukan pada kue yang dibuat setahun sekali

Rindu kami kapan kesempatan berbagi masih diberi

Atau kapan masih bersama sesama di balai tadarus memperbaiki diri

Menempel karut marut kecemburuan dalam kehidupan yang timpang

Di tengah terpaan fitnah duniawi yang tiada henti

 

Rindu kami bukan pada nyanyian para qari

Rindu kami pada keikhlasan menghiasi diri dalam hidup

Rindu kami pada bacaan yang membimbing hati nurani

Bukan siraman bentakan nasehat yang menggurui

Karena semua telah diberi hati nurani untuk mendengar dan saling berbagi

 

Rindu kami bukan suara keras para pendai

Apalagi yang suka menghakimi

Karena hakim yang abadi Dia lah yang sendiri

Rindu kami pada para teladan yang menjembatani hidup kami

Dalam suka, duka dan mungkin kekhilafan kami

Andai saja pendai tak bernurani tentu dia tidak akan mau mengabdi

Karena seddikit saja gaji dibandingkan dengan presenter tv

 

Akhir rindu kami hanya pada yang abadi

Dan itu selalu ada di batin kami

Yang setiap hari akan selalu kami bawa

Kita doakan bersama akan sampai mati

 

 

 

Touchstone

Ketika perpustakaan besar Alexandria dibakar, ceritanya, satu buku diselamatkan. Tapi itu bukan buku yang berharga, dan sebagainya orang miskin, yang bisa membaca sedikit, membelinya untuk beberapa tembaga.

Buku itu tidak sangat menarik, tetapi antara halaman-halamannya ada sesuatu yang sangat menarik memang. Itu adalah strip tipis vellum yang ditulis rahasia dari “Touchstone”!

Ujian adalah kerikil kecil yang bisa berubah setiap logam biasa menjadi emas murni. Tulisannya menjelaskan bahwa itu tergeletak di antara ribuan dan ribuan kerikil lain yang tampak persis seperti itu. Tapi rahasia itu ini: The real batu akan terasa hangat, sedangkan kerikil biasa dingin.

Jadi orang itu menjual beberapa barang-barang miliknya, membeli beberapa perlengkapan sederhana, berkemah di tepi pantai, dan mulai kerikil pengujian.

batu
Dia tahu bahwa jika ia mengambil kerikil biasa dan melemparkan mereka turun lagi karena mereka dingin, ia mungkin mengambil ratusan kerikil yang sama kali. Jadi, ketika ia merasa salah satu yang dingin, ia melemparkannya ke laut. Dia menghabiskan sepanjang hari melakukan hal ini namun tidak satupun dari mereka adalah batu ujian tersebut. Namun ia pergi dan di jalan ini. Ambil kerikil. Dingin – membuangnya ke laut. Pick up lain. Membuangnya ke laut.

Hari-hari berganti menjadi minggu dan minggu menjadi bulan. Suatu hari, bagaimanapun, sekitar tengah hari, ia mengambil kerikil dan itu hangat. Dia melemparkannya ke laut sebelum ia menyadari apa yang telah dilakukannya. Dia telah membentuk suatu kebiasaan yang kuat saling lempar kerikil ke laut bahwa ketika yang ia ingin datang, ia masih membuangnya.

Jadi dengan kesempatan. Kecuali kita waspada, itu asy gagal untuk mengenali kesempatan ketika di tangan dan itu hanya sebagai mudah untuk membuangnya.

Baca lebih lanjut: http://www.motivationalwellbeing.com/motivational-stories-2.html # ixzz2ZbPk3qAb

MEMAKNAI KONSELING ISLAM

   Kata bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari “guidance” dan“counseling” dalam Bahasa Inggris. Keduanya sangat dekat dan tidak bisa dipilah dalam prakteknya. Secara harfiah kata guidance bermakna menuntun, mempedomani, menjadi petunjuk jalan dan mengemudikan. Sedangkan kata counseling diartikan dengan bersama atau bicara bersama”. Counsel juga diartikan sebagai diartikan sebagai nasehat (to obtain counsel); anjuran (to give counsel); pembicaraan(to take counsel).

Abu Ahmadi, (1991: 2) mengartikan Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimal dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.[1]

Ada pun menurut Prayitno Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Dari dua definisi di atas sudah dapat diperoleh suatu gambaran bahwa bimbingan itu adalah suatu proses pemberian bantuan kepada orang lain oleh seorang yang profesional, sehingga perkembangan jiwa yang menerima bantuan dapat bekembang secara normal.

Dari definisi di atas dalamnya paling tidak ada tiga komponen yang bekerja dalam proses bimbingan yaitu: Seorang ahli, Bantuan yang diberikan dengan berbagai macam metodenya dan juga seseorang yang dianggap memiliki masalah dalam perkembangan jiwanya. Ketiga komponen ini harus mampu di selaraskan dengan baik, sehingga bisa terlaksananya proses bimbingan yang maksimal. Adanya proses interaksi yang timbal balik sangatlah diharapakan, bukan hanya dari sipembimbing searah.

Sedangkan konseling menurut para pakar adalah hubungan tatap muka antar dua orang yang di dalamnya ada kemampuan oleh konselor untuk mampu mempengaruhi si konseli bisa memahami diri sendiri.  Proses tatap muka inilah yang menjadi inti dari proses konseling. Yang dalam interaksi tersebut banyak sekali terjadi peristiwa yang menyebabkan si konseli mampu mengenal diri dengan baik kembali, sehingga terjadi suatu Kehidupan Efektif Sehari-hari (KES). Namun jangan membayangkan bahwa itu terjadi dalam waktu yang cepat. Diperlukan langkah-langkah khusus yang tentunya seorang konselor terdidik sudah sangat paham apa yang mesti dilakukan.

James F, Adams,  sebagaimana dikutip oleh I.Djumhur dan Moh. Surya (1975: 29) mengemukakan bahwa  “Konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu dimana yang seorang (konselor) membantu yang lain (konseli) supaya ia dapat memahami dirinya dalam hubungan dengan masalah-masalah hidup yang dihadapinya waktu itu dan pada waktu yang akan datang” [2]

Selanjutnya C. Patterson (1967) berpendapat bahwa konseling adalah proses yang melibatkan hubungan pribadi antara konselor dengan satu atau lebih klien dimana konselor menggunakan metode-metode psikologis atas dasar pengetahuan yang dimilikinya. dan banyak lagi pendapat para ahli yang berbeda berkenanan dengan makna konseling sesuai derngan sudut pandangnya masing-masing.

Dari dua definisi di atas dapat dipahami bahwa inti konseling adalah proses interaksi yang berlangsung antara konselor dan konseli. Sukses tidaknya kegiatan konseling sangat tergantung pada dua aktor tersebut dalam mengadakan pertemuan tersebut.

Berikutnya—lagi proses penulisan

 

 


Drs.H. Abu Ahmadi & Drs. Ahmad Rohani HM., Bimbingan dan Konseling  di Sekolah(Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), h. 2

[2] I. Djumhar dan Moh. Surya. 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (Guidance & Counseling). Bandung : CV Ilmu

 

%d bloggers like this: